Atraksi Wisata Baru Mekotek Dari Bali

Populer Berita – Atraksi Wisata Baru, Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali, mengemas tradisi Mekotek menjadi suatu bentuk garapan fragmentari yang dapat menjadi suatu atraksi wisata.

Mekotek salah satu tradisi tolak bala asli Desa Munggu yang dilaksanakan dengan tujuan memohon keselamatan. Dahulu, perayaan Mekotek menggunakan besi, yang memberikan semangat juang untuk ke medan perang atau dari medan perang.

Namun karena banyak peserta yang terluka, tombak dari besi diganti dengan tongkat dari kayu pulet yang sudah dikupas kulitnya.

Atraksi Wisata Baru

“Desa Munggu telah ditetapkan sebagai Desa Wisata sesuai dengan Peraturan Bupati Badung No. 47 tahun 2010, untuk itu kami mencoba mengemas tradisi Mekotek dalam bentuk fragmentari yang kami suguhkan selama wisatawan domestik. Maupun mancanegara yang menginap di wilayah Desa Wisata Munggu,” ujar Ketua Panitia, Putu Suarda, Selasa (22/10).

Apa itu Mekotek Atraksi Wisata Baru Bali

Gagasan untuk mengemas garapan fragmentari Mekotek diawali oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat sebagai sumber daya manusia penggerak Desa Wisata Munggu.

Ia menjelaskan selain sebagai atraksi bagi wisatawan. Garapan fragmentari dari tradisi Mekotek tersebut diharapkan dapat melestarikan dan meningkatkan budaya yang ada di desa itu.

“Kami ingin mengarahkan para pemuda untuk melakukan kegiatan positif yang juga dapat meningkatkan perekonomian di Desa Munggu,” katanya.

Sementara itu, Wakil Bupati Badung, I Ketut Suiasa mengatakan pihaknya sangat mengapresiasi pagelaran fragmentari Mekotek tersebut.

Atraksi Wisata Baru

“Kami menyambut baik pagelaran fragmentari Mekotek di Desa Munggu ini, namun kami harapkan kemasan atraksi wisata itu juga tetap menjaga kesakralan dari budaya Mekotek,” ujarnya.

Upacara Mekotek juga dikenal dengan istilah ngerebek, biasanya upacara ini diiringi gamelan untuk menyemangati para peserta. Awalnya Mekotek dilakukan untuk menyambut prajurit Kerajaan Mengwi yang menang perang dari Kerajaan Blambangan di Jawa Timur.

Pada saat masa pemerintahan Belanda pada tahun 1915 Mekotek pernah dihentikan. Karena Belanda khawatir akan ada pemberontakan. Namun kawasan Mengwi sempat dijangkiti wabah penyakit, dan akhirnya Mekotek dilaksanakan kembali untuk tolak bala.

Upacara Mekotek digelar setiap enam bulan sekali, tepatnya 210 hari berdasarkan kalender Hindu, pada hari Sabtu Kliwon Kuningan tepat pada hari raya Kuningan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Show Buttons
Hide Buttons