Labuan Bajo Pernah Berada di Dasar Laut Ini buktinya

Populerberita.com – Labuan Bajo adalah gerbang pariwisata ke Pulau Komodo. Di masa lalunya tempat wisata Labuan Bajo dan sekitarnya pernah berada di bawah permukaan laut.

Ada bukti yang tersimpan kokoh di Ibu Kota Manggarai Barat ini yaitu Gua Batu Cermin di Kampung Wae Kesambi. Letaknya tak jauh dari pusat kota, sekitar 4 kilometer saja. Lokasi mudah diakses menggunakan mobil.

Sebagai tempat wisata di daerah Labuan Bajo kawasannya cukup tertata. Setelah membayar tiket seharga 20 ribu rupiah dan biaya pemandu wisata sehsarga 50 ribu untuk satu grup barulah kami memulai perjalanan. Pemandu bernama Markus berumur kisaran 32 tahun ini menjelaskan berdasarkan materi pokok diselingi humor sesekali.

Tim yang ikut Teras BRI Kapal Bahtera Seva III memulai langkah di lintasan pejalan kaki. Di kanan dan kiri, ada bambu berduri, orang sini menyebutnya bambu to’e (Bambusa blumeana).

Menyusuri Tempat Wisata Labuan Bajo

Batu-batu besar berjajar dan ada yang berbentuk seperti jamur payung raksasa. Batu besar bagian atas bisa seimbang meski sekilas seperti bertumpu di titik kecil, seperti payung yang bertumpu pada gagangnya.

Tibalah kami berlima di mulut gua. Puncak dari gua tersebut memaksa para pengunjung untuk mendongakkan keatas karena posisinya menjulang 75 meter. Setelah melewati 25 anak tangga barulah kita bisa melihat stalaktit menjuntai dan stalakmit menyembul.

Mengenakan helm kuning, kami mulai masuk sisi gelap gua ini. Kontan saja, “Duk!” Kepala disambut oleh kerasnya batu. Aman! Helm ini masih cukup kuat menjadi pelindung.

“Menurut sejarahnya sendiri, gua ini telah di temukan oleh orang Belanda yang bernama Theodor Verhoeven tahun 1951,” ucap Markus sambil memegang senter.

Entah apakah Verhoeven yang berprofesi misionaris sekaligus arkeolog itu telah menemukan gua ini sendiri tanpa bantuan warga lokal atau tidak, yang jelas memang nama Verhoeven yang dikenalkan sebagai penemu gua ini. Verhoeven juga dikenal karena temuannya di Liang Bua, gua di sudut lain Pulau Flores ini, yang belakangan menjadi tempat ditemukannya subfosil Homo floresiensis alias Hobbit yang menghebohkan itu.

Markus selanjutnya melangkahkan kakinya hati-hatinya di kegelapan Gua Batu Cermin ini. Dia menyorot ke arah bawah dan ke depan. Cahaya ponsel kami turut menerangi lantai gua supaya kami tak terantuk. Lorong sempit memaksa kami tunduk berjongkok atau merangkak. Tidak lama setelahnya sampailah Markus pada dinding gua yang tersusun oleh fosil-fosil kerang.

“Menurut Verhoeven yang sudah menemukan fosil kerang dan karang di sini, dahulu gua ini berada di dalam laut pada zaman dulu. Namun dikarenakan gempa bumi yang cukup dahsyat maka daratan menjadi naik,” lanjut Markus.

Jadi kesimpulannya Labuan Bajo adalah fenomena dasar laut yang terangkat ke daratan. Di kalangan geologi ini disebut sebagai tektonisme.

Keindahan Gua Labuan Bajo

Gua ini juga memiliki semacam ruang terbesar di dalamnya, ada banyak cekungan di langit-langitnya. Tak hanya kerang, ada pula fosil kura-kura di sini. Untuk yang satu ini saya baru mengerti setelah diberitahu bahwa batu yang menempel di langit-langit adalah fosil kura-kura, kurangnya cahaya juga memengaruhi pengamatan.

Bau-bau kotoran kelelawar tercium di kegelapan. Kami sampai di ruang pembiasan cahaya. Di ketinggian ada lubang tempat masuknya sinar matahari. Inilah yang membuat gua ini disebut sebagai gua batu cermin, karena bila cahaya tepat menembus lubang dan memantul ke bebatuan, maka efek pembiasan yang ditimbulkan bisa seperti cermin. Untuk saat ini kami hanya melihat pilar cahaya.

“Waktu yang paling pas jika ingin berkunjung ke sini adalah pada bulan Mei hingga Agustus dikarenakan matahari tepat berada di lubang gua sehingga pilar cahaya bisa membiaskan sinar seperti cermin,” kata Markus.

Stalagmit dan stalaktit di mana-mana. Di antara batu-batu kerucut itu ada juga yang bisa dijadikan alat musik. Dipukul dengan tangan pun bunyinya cukup nyaring di kesunyian gua hampir seperti suara bonang dalam gamelan.

Kami berjalan terus menelusuri lorong sempit. Tidak terasa keindahan alam ini sudah berakhir dengan menempuh waktu perjalanan 50 menit. seusainya menyusuri gua, kami melahap makanan yang dijual di luaran area gua ini.

Gua Batu Cermin ini sangatlhah direkomendasikan untuk dikunjungi oleh para wisatawan yang datang ke Labuan Bajo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Show Buttons
Hide Buttons